Tampilkan postingan dengan label Gunung Slamet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung Slamet. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2014

Jalur Evakuasi Gunung Slamet Rusak Parah

Sudah genap enam bulan aktivitas vulkanis Gunung Slamet menggeliat. Dalam kurun waktu itu, gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut dua kali dinyatakan berstatus siaga (dua level di atas normal). Kendati demikian, kondisi jalur evakuasi di lereng Gunung Slamet wilayah Kabupaten Brebes masih memprihatinkan. "Sama sekali belum diperbaiki," kata Komandan Komando Distrik Militer 0713/Brebes Letnan Kolonel (Inf) Cahyadi Imam Suhada kepada Tempo, Selasa, 2 September 2014. Rusak parahnya jalur evakuasi itu membentang sepanjang tiga kilometer di wilayah Desa Dawuhan, Kecamatan Sirampog.

Sejak status Gunung Slamet dinaikkan menjadi waspada (satu level di atas normal) pada awal Maret lalu, Cahyadi langsung menghubungi Bupati Brebes Idza Priyanti agar kerusakan jalan Desa Dawuhan segera diperbaiki. Sampai sekarang belum ditanggapi. "Anggota kami siap membantu perbaikannya," ujar Cahyadi. Menurut dia, jalan Desa Dawuhan itu satu-satunya jalur untuk mengevakuasi warga Dukuh Sawangan jika Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Slamet menjadi awas (tiga level di atas normal). Dukuh Sawangan, sekitar lima kilometer di barat puncak Gunung Slamet, dihuni sekitar 3.000-4.000 warga.

Dalam waktu dekat, Kodim Brebes akan menggelar simulasi penanganan bencana erupsi Gunung Slamet bersama sejumlah instansi lain yang terkait. Simulasi serupa pernah dilakukan pada Mei lalu. "Tujuannya untuk mengingatkan warga ihwal langkah-langkah yang harus ditempuh ketika ada instruksi mengungsi," katanya.

Koordinator Relawan Gunung Slamet, Dani Ahmad, mengatakan jalur evakuasi di Desa Dawuhan itu hanya bisa dilalui mobil dengan kecepatan rata-rata 10 kilometer per jam. Tanjakannya lumayan curam dengan kemiringan sekitar 30 derajat. Permukaan jalannya hanya dari batu-batu yang ditata.

Selain terjal, curam, dan berbatasan langsung dengan jurang, Dani menambahkan, jalur evakuasi itu lebarnya hanya sekitar tiga meter. Walhasil, mobil yang bersimpangan harus mengalah salah satunya. Truk bisa lewat, tapi kendaraan lain harus menepi dulu. Ini menjadi kendala utama dalam proses simulasi pada Mei lalu.

Mewakili Bupati Idza, Kepala Bagian Humas Pemkab Brebes Atmo Tan Sidik mengatakan rencana perbaikan jalur evakuasi di lereng Gunung Slamet itu sudah dalam tahap pembahasan. "Anggaran untuk perbaikan jalur evakuasi itu masih dalam proses penghitungan," kata Atmo.

Sumber: tempo

Antisipasi Letusan Gunung Slamet, Warga Brebes Ronda Malam

Aktivitas vulkanik Gunung Slamet di Brebes, Jawa Tengah terus meningkat. Letupan material yang disemburkan dari kawah gunung terbesar di Pulau Jawa itu juga sempat terekam kamera. Letusan setinggi lebih dari 1 kilometer itu bahkan terjadi hingga ratusan kali setiap harinya.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Malam SCTV, Kamis (4/9/2014), secara visual, letupan material yang terus disemburkan Gunung Slamet itu dibarengi dengan suara dentuman keras.

Letupan juga menyebabkan tanah dan kaca-kaca rumah penduduk bergetar meski berjarak sekitar 4 kilometer dari kawah gunung. Kondisi ini membuat warga sekitar gunung merasa was-was. Mereka mengaku, suara dentuman bahkan terdengar keras hingga radius 8 kilometer.

Guna mengantisipasi bahaya letusan Gunung Slamet, para warga pun secara bergantian melakukan ronda malam. Tim SAR dan anggota TNI juga telah berjaga di sejumlah titik yang dianggap rawan bila terjadi erupsi.

Warga mengaku hanya bisa pasrah dan siap untuk diungsikan kapan saja bila pemerintah setempat sudah memberikan perintah. Sementara itu, hingga kini status Gunung Slamet masih Siaga.

Sumber: liputan6.com

Gunung Slamet Tidak Membentuk Kubah Lava

Pakar kegunungapian, Surono, memastikan bahwa Gunung Slamet yang meliputi Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes, Jawa Tengah, tidak membentuk kubah lava.

"Buktinya masih ada semburan (sinar api dan lontaran lava pijar). Apakah ada bukti visual kalau ada kubah," katanya saat dihubungi ANTARA dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat.

Menurut dia, semburan material atau lava pijar yang masih sering teramati menunjukkan bahwa saluran atau lubang letusan Gunung Slamet tidak tersumbat.

"Bila tidak tersumbat, maka tidak ada sumbat lava karena hanya lava yang membeku dapat menyumbat saluran letusan," kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu.

Ia mengatakan bahwa sumbat lava yang besar dapat disebut sebagai kubah lava.

Dengan demikian, kata dia, kubah lava kecil kemungkinan atau dapat dikesampingkan ada di dalam kawah Gunung Slamet.

"Keberadaan kubah lava hanya dapat dikenali secara visual, terlihat. Kubah lava itu kenyataan, bukan berandai-andai atau kira-kira. Bila ada kubah lava, pasti saluran letusan tertutup, lakon Slamet akan beda," kata pria yang akrab dipanggil Mbah Rono itu.

Dia mengaku sangat sedih ketika mendapat pertanyaan dan pemberitaan media massa yang menyebutkan bahwa magma di Gunung Slamet sudah dekat permukaan kawah, sehingga bisa masuk ke sungai-sungai yang ada di sekitar gunung tertinggi di Jateng itu.

"Memangnya magma seperti air, meluber dan mengalir melalui lembah atau sungai-sungai," katanya.

Ia mengatakan bahwa magma merupakan batuan cair seperti silika sehingga wujudnya kental.

"Kalau luber (hanya) di kawah Slamet, tidak mengalir dan yak-yakan (menelusuri) di sungai. Waduh jan, saya ikut malu karena Republik Indonesia punya gunung api terbanyak di dunia, tapi masih ada yang membayangkan magma seperti air," ujarnya.

Lebih lanjut, Surono mengatakan bahwa berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada hari Kamis (4/9), pukul 18.00--00.00 WIB, cuaca Gunung Slamet terang dan anginnya tenang, sehingga dapat teramati 41 kali sinar api dengan ketinggian 100--250 meter, 14 kali lontaran lava pijar setinggi 100--200 meter dari puncak, dan terdengar tiga kali suara dentuman dan terekam adanya tremor menerus.

Sementara pada hari Jumat (5/9), pukul 00.00--06.00 WIB, cuaca Gunung Slamet terang dan anginnya tenang, sehingga dapat teramati embusan asap putih tipis dengan ketinggian 50--100 meter dari puncak.

Selain itu, teramati 43 kali sinar api dengan ketinggian 100--300 meter dari puncak dan tujuh kali lontaran lava pijar setinggi 100--200 meter dari puncak, serta terdengar satu kali suara dentuman dan tiga kali suara gemuruh, sedangkan kegempaan terekam satu kali gempa vulkanik dalam dan tremor menerus.

"Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa status Gunung Slamet tetap Siaga, sehingga masyarakat tidak boleh beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari puncak. Bagi masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di luar radius tersebut diimbau agar tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa," kata Surono.

Disinggung mengenai data pengamatan beberapa hari sebelumnya yang tidak menyebutkan adanya sinar api dan lontaran lava pijar, dia mengatakan bahwa hal itu kemungkinan tidak teramati karena Gunung Slamet tertutup kabut atau kejadiannya pada siang hari sehingga tidak tampak ada sinar api.

"Demikian pula dengan suara gemuruh dan dentuman dapat terdengar jelas pada malam hari, tetapi kalau siang hari tidak terdengar karena bising," katanya.

Sumber: antaranews.com

Minggu, 16 Maret 2014

Suhu Air di Lereng Gunung Slamet Naik

Terkait naiknya status Gunung Slamet dari Aktif Normal menjadi Waspada, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Banyumas mengecek suhu air panas di lereng gunung. Petugas mengecek suhu air di beberapa sumber air panas di lereng Gunung Slamet. Pengecekan pertama kali dilakukan di pancuran 3 obyek wisata air panas dan belerang Kompleks Perhutani, Baturaden.

Petugas Dinas ESDM Banyumas, Sigit, Senin (17/3/2014), menuturkan, pada kondisi normal, suhu air panas di sana 43 derajat Celcius, namun saat diukur siang tadi ternyata naik menjadi 45 derajat Celcius. Meski demikian, suhu tersebut menurun dibanding pemeriksaan beberapa hari lalu yang mencapai 46 derajat Celsius. Petugas juga melakukan pemeriksaan di sumber air panas di pancuran 7. Hasil pemeriksaan menunjukkan suhu di sana tidak jauh berbeda dengan di pancuran 3.

Sumber:  okezone.com

4 Desa di Banyumas Diguyur Abu Vulkanik Gunung Slamet

Sedikitnya empat desa yang berada di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, diguyur hujan abu vulkanis dari Gunung Slamet. Empat desa tersebut adalah Limpakuwus, Sikapat, Kotayasa, dan Gandatapa. “Seluruhnya masuk wilayah Kecamatan Sumbang,” jelas Asisten Perekonomian Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat (Asekbangkesra) Sekda Pemkab Banyumas, Didi Rudwiyanto, Senin (17/3/2014).

 Pemkab, lanjut dia, sudah mendistribusikan masker ke desa-desa tersebut. Setiap desa mendapat masker minimal 50 boks. Pendistribusiannya ke masing-masing kantor desa dan puskesmas. Lebih lanjut ia mengatakan, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas sudah mengirim contoh abu vulkanis ke laboratorium kesehatan di Yogyakarta untuk diteliti. Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk mengetahui apakah abu tersebut membahayakan kesehatan warga atau tidak. ”Jika abu atau material yang jatuh itu membahayakan warga, masker yang telah didistribusikan harus dipakai,” pungkasnya.

Sumber: okezone.com